Bengkulu, mediabengkulu.co – Kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Bengkulu tak hanya berfokus pada agenda resmi.
Setelah meninjau rumah warga terdampak gempa di kawasan Betungan Reflesia Asri, Gibran singgah di Hotel Mercure untuk beristirahat, Selasa (27/5/2025).
Namun, ia menghentikan langkahnya ketika menyaksikan mahasiswa berorasi di depan hotel.
Tanpa menunggu pengamanan, Gibran keluar dari mobil dan berjalan kaki menemui massa aksi.
Ia menunjuk empat mahasiswa sebagai perwakilan dan mengajak mereka berdialog di dalam hotel.
Sebelum pertemuan itu terjadi, aparat gabungan TNI-Polri telah berjaga ketat di sekitar hotel.
Kehadiran ratusan petugas itu merespons aksi mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi langsung kepada Wapres.
Aksi tersebut sempat menarik perhatian publik dan menjadi sorotan di media sosial.
Dalam dialog tertutup itu, perwakilan mahasiswa menyuarakan lima isu utama yang mereka nilai mendesak.
Mereka menyoroti kelangkaan BBM, kenaikan pajak kendaraan bermotor hingga 66 persen, pendangkalan alur keluar masuk kapal di Pelabuhan Pulau Baai.
Konflik lahan antara masyarakat dan perusahaan, serta ancaman terhadap kelestarian lingkungan akibat aktivitas perkebunan dan pertambangan.
Gibran langsung menanggapi satu per satu persoalan tersebut, ia menyampaikan solusi jangka pendek dengan meminta lima SPBU di Bengkulu beroperasi 24 jam guna mengurangi antrean dan distribusi BBM.
Ia juga berencana mengaktifkan kembali jaringan Pertashop sebagai alternatif distribusi bahan bakar, terkait persoalan pajak, Gibran menegaskan bahwa ia akan mengevaluasi kenaikan tersebut bersama pihak terkait.
Ia mengaku memahami beban masyarakat dan meminta masukan lebih lanjut agar kebijakan pajak bisa lebih adil.
Gibran juga menugaskan dua tim dari jajaran deputi untuk tetap berada di Bengkulu.
Ia meminta mereka menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul sebelum kembali ke Jakarta.
Para mahasiswa menyambut langkah Wapres itu dengan positif. Mereka menganggap Gibran menunjukkan komitmen untuk mendengarkan suara publik secara langsung dan tidak menghindari kritik.
Kunjungan Gibran ke Bengkulu tidak hanya membawa agenda pemerintahan, tetapi juga membuka ruang dialog yang mempertemukan suara rakyat dengan pengambil kebijakan.
Sikap terbuka seperti ini menumbuhkan harapan baru bagi mahasiswa bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.
“Wapres Gibran akan meninggalkan 2 tim dari 2 deputi untuk menindaklanjuti aspirasi kami ini, soal kenaikan pajak juga telah kita sampaikan dan akan ditindaklanjuti,” sampai mahasiswa, dikutip dari bengkulutoday.com. (Yola)






