Danantara Gaspol PLTSa, Pemerintah Bidik 33 Proyek Sampah Jadi Energi hingga 2029

Pemerintah Bidik 33 Proyek Sampah Jadi Energi hingga 2029. (foto: ist)

Jakarta, mediabengkulu.co – Pemerintah mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk menjawab darurat sampah nasional.

Indonesia menghasilkan sekitar 56 juta ton sampah per tahun. Namun, baru sekitar 40 persen yang berhasil didaur ulang.

Kondisi ini mendorong pemerintah mengembangkan solusi waste-to-energy secara terintegrasi.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menilai keterlibatan Danantara sebagai langkah strategis.

Menurutnya, pendekatan ini meniru praktik terbaik yang telah diterapkan di sejumlah negara Asia.

“Program waste to energy sebenarnya sudah berjalan lebih dari 10 tahun di Surabaya dan Solo. tetapi sulit berkembang karena proses rumit dan keekonomian yang lemah,” kata Eddy, Rabu (14/1/2026).

Ia menyebut Danantara membawa pembaruan karena berperan sebagai investor sekaligus penyeleksi mitra proyek.

Skema ini dinilai mampu memperkuat pembiayaan jangka panjang.

“Danantara punya modal dan hasilnya kembali ke negara. Secara permodalan tidak ada masalah,” ujarnya.

Eddy juga menilai tarif listrik sebesar 20 sen per kWh membuat proyek PLTSa lebih layak tanpa membebani APBN.

Dukungan datang dari PT PLN (Persero) yang siap menjadi pembeli listrik dari proyek-proyek PLTSa.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah telah berkomitmen membangun PLTSa melalui Danantara.

“Pada 2026, tujuh proyek PLTSa akan mulai dibangun,” ujar Airlangga.

Ia menambahkan, proyek ini mendukung sektor pariwisata dan sejalan dengan target Presiden Prabowo Subianto membangun 33 PLTSa di berbagai provinsi hingga 2029.

Sementara itu, Managing Director Investment Danantara Indonesia Stefanus Ade Hadiwidjaja menyebut waste-to-energy sebagai peluang besar untuk menjawab tantangan lingkungan sekaligus menyediakan energi bersih.

“Ini peluang menjaga keberlanjutan hidup. Namun, tidak bisa dikerjakan sendiri. Kolaborasi menjadi kunci,” katanya. (**)