Mahasiswa Arsitektur UNIB Ditantang Rancang Masjid Terapung Futuristik, Bengkulu Siap Punya Ikon Baru

Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi, tantangan mahasiswa untuk merancang masjid terapung futuristik yang akan menjadi ikon baru kota. (foto: ist)

Kota Bengkulu, mediabengkulu.co – Di tengah peringatan Dies Natalis ke-8 Program Studi Arsitektur Universitas Bengkulu, pada Senin (13/10/2025).

Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi, melempar tantangan kepada mahasiswa, untuk merancang masjid terapung futuristik yang akan menjadi ikon baru kota.

Tantangan itu bukan sekadar proyek imajinasi kampus, melainkan bagian dari rencana nyata Pemerintah Kota Bengkulu, untuk membangun Masjid Terapung Alam.

Yang nantinya akan menjadi pusat ibadah, wisata religi, dan penggerak ekonomi berbasis keagamaan.

“Saya percayakan desain masjid terapung ini, kepada mahasiswa Arsitektur UNIB. Kalian anak muda, punya ide-ide segar, bentuk harus unik, kekinian, dan tahan lama,” tegas Dedy, di hadapan para mahasiswa dan dosen Fakultas Teknik, UNIB.

Mahasiswa Dilibatkan Bangun Kota

Langkah Walikota ini, mencerminkan keberanian dan kepercayaan terhadap generasi muda—menghapus batas antara ruang akademik dan dunia nyata.

Desain Masjid Terapung ini diharapkan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ikon visual dan spiritual di wilayah pesisir Bengkulu, layaknya Masjid Terapung di Pantai Carocok, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Simbol Kolaborasi Pemerintah & Akademisi

Momentum Dies Natalis Arsitektur UNIB ini, pun berubah menjadi forum kolaborasi strategis antara pemerintah dan institusi pendidikan tinggi.

Walikota mengapresiasi desain-desain mahasiswa yang dipamerkan, dan menyebut banyak di antaranya memiliki nilai estetika dan fungsi yang sangat potensial untuk diterapkan langsung dalam pembangunan kota.

“Banyak desain kalian luar biasa. Ini menunjukkan kapasitas anak muda Bengkulu sudah siap jadi pemain utama dalam pembangunan kota,” puji Dedy.

Bengkulu Menuju Kota Futuristik Berbasis Religi

Dengan rencana pembangunan masjid ini, Bengkulu menunjukkan ambisinya untuk menjadi kota yang bukan hanya maju secara fisik, tetapi juga kuat secara spiritual.

Masjid terapung akan menjadi simbol identitas baru—menggabungkan nilai keagamaan, keindahan arsitektur, dan keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, pembangunan fisik akan dimulai setelah Mess Pemda selesai diubah menjadi kantor Walikota, yang menjadi titik awal dari revitalisasi kawasan tersebut.

Tantangan Walikota ini, bisa jadi menjadi langkah awal mengintegrasikan peran mahasiswa dalam pembangunan nyata.

Jika berhasil, Masjid Terapung Alam Bengkulu tak hanya akan menjadi landmark kota, tapi juga monumen kolaborasi antara pemerintah dan anak muda kreatif. (hln)