Sekolah Gratis untuk Siswa Terdampak Bencana

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengumumkan program sekolah gratis bagi siswa terdampak banjir dan longsor 2026/2027
Gubernur Sumut Bobby Nasution menjelaskan program sekolah gratis mulai tahun ajaran 2026/2027 untuk siswa SMA, SMK, dan SLB di wilayah terdampak banjir dan longsor. (foto: ist)

Tapanuli, mediabengkulu – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyiapkan program sekolah gratis bagi siswa di wilayah terdampak banjir dan longsor.

Program ini ditujukan untuk mempercepat pemulihan pendidikan pascabencana dan berlaku mulai tahun ajaran 2026/2027 untuk SMA/SMK hingga Sekolah Luar Biasa (SLB).

Gubernur Sumut, Bobby Nasution, menegaskan bahwa langkah ini menunjukkan kehadiran pemerintah untuk memastikan hak pendidikan tetap terpenuhi meski terjadi bencana.

“Sekolah gratis ini akan dimulai di ajaran baru 2026/2027. Tidak bisa mulai sekarang karena ada siswa yang sudah membayar di awal tahun ajaran, jadi kami pastikan mulai Juli nanti tidak ada pungutan lagi,” ujar Bobby.

Pemprov Sumut mengalokasikan Rp 22 miliar untuk pelaksanaan sekolah gratis di lima kabupaten/kota terdampak bencana: Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, dan Kabupaten Langkat. Dana ini menyasar sekitar 51 ribu siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Alexander Sinulingga, menambahkan bahwa skema ini merupakan bagian dari Program Unggulan Bersekolah Gratis (PUBG) yang sebelumnya diprioritaskan di Kepulauan Nias.

“Tahun ajaran baru ini PUBG juga akan dilaksanakan di lima kabupaten/kota terdampak bencana, selain di Nias. Untuk Nias, dana Rp 21 miliar disiapkan bagi 41 ribu siswa,” jelas Alexander.

Dengan demikian, total anggaran untuk program sekolah gratis di Sumut pada 2026/2027 mencapai Rp 43 miliar.

Seluruh dana akan ditransfer langsung ke rekening sekolah sesuai petunjuk teknis yang diatur lewat Peraturan Gubernur.

Alexander menekankan, program ini bertujuan meringankan beban ekonomi masyarakat terdampak sekaligus memastikan kelangsungan pendidikan puluhan ribu siswa Sumatera Utara.

“Kami ingin anak-anak tetap sekolah tanpa khawatir biaya, agar pendidikan tetap berjalan lancar meski bencana terjadi,” pungkasnya. (**)