Kota Bengkulu, mediabengkulu.id – Laporan dugaan penganiayaan yang menyeret nama Dekan FKIP Universitas Bengkulu, Abdul Rahman, menjadi perbincangan panas di media sosial. Namun di tengah isu yang bergulir, para alumni justru kompak buka suara membela.
Sejak Abdul Rahman, memenuhi panggilan penyidik di Polsek Muara Bangkahulu, namanya langsung trending. Dukungan mengalir deras.
Namun satu hal mencolok. Banyak alumni menyatakan dukungan terbuka kepada Abdul Rahman.
“Pak Abdul itu transparan soal nilai. Tidak pernah menyulitkan mahasiswa,” ujar salah satu alumni kepada tim Insting Cyber.
Alumni lain menyebut selama kepemimpinannya, sistem akademik berjalan lebih tegas dan terukur.
“Kalau nilai ya sesuai capaian. Tidak ada negosiasi di belakang,” tulisnya.
Narasi Berbalik Arah
Menariknya, opini publik justru berbalik arah. Jika laporan menyebut adanya dugaan penganiayaan, di media sosial justru muncul cerita-cerita lama soal persoalan akademik yang menyeret nama pelapor.
Seorang narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku pernah merasa dipersulit dalam urusan nilai.
“Saya pernah dengar dan alami sendiri. Untuk urusan surat izin penelitian, katanya harus ikut conference atau study banding. Kalau tidak ikut, tetap harus bayar,” ungkapnya.
Ia menyebut nominalnya berkisar antara Rp4 juta hingga Rp5 juta. Ia mengaku pernah melihat bukti transfer terkait keperluan tersebut.
Namun ia menegaskan, informasi itu dulu diteruskan ke pihak jurusan atas persetujuan mahasiswa yang melapor.
Kesaksian lain datang dari seorang mahasiswa S2 Pendidikan Matematika angkatan 2019, berinisial Hy.
“Kalau ke saya pribadi tidak pernah pungli. Tapi pernah diminta membeli sesuatu di butik milik istri beliau. Setiap bimbingan juga ada saja yang diminta, disuruh bersih-bersih rumah” ujarnya, yang minta Namanya dirahasiakan, Jumat (13/2/2026).
Cerita Lama terungkap
Terkait dugaan pelanggaran disiplin Pegawai Negeri Sipil, yang dilakukan oleh Prof Wahyu Widada dan Dewi Herawaty, dosen FKIP UNIB pada tahun 2021, terungkap.
“Beberapa saksi telah dipanggil untuk dilakukan pemeriksaan,” ungkap narasumber.
Narasumber lain, juga membenarkan pernah menerima laporan dari mahasiswa pada Desember 2020.
Saat itu, ia masih berstatus tugas belajar S3 dan tidak aktif mengajar. Namun seorang mahasiswa menghubunginya dan mengaku diminta pelapor membayar sejumlah uang, terkait pengurusan surat izin penelitian.
“Katanya harus ikut conference atau study banding. Kalau tidak ikut, tetap harus bayar. Nominalnya saya lupa, sekitar empat atau lima juta,” jelasnya.
Ia menyebut surat tersebut, disebut-sebut dikeluarkan oleh kaprodi saat itu. Mahasiswa yang melapor mengaku memiliki bukti transfer.
“Saya hanya menyarankan kalau mau dilanjutkan, lapor ke jurusan. Karena status saya waktu itu masih tugas belajar,” ujarnya.
Ia menegaskan, laporan tersebut atas persetujuan mahasiswa yang bersangkutan. Ia hanya membantu mengarahkan ke pimpinan jurusan saat itu, yang dijabat Abdul Rahman.
Dukungan Terus Menguat
Di media sosial, dukungan terhadap Abdul Rahman terus menguat. Banyak alumni menilai ia tegas dalam tata kelola dan berani menindak dugaan pelanggaran akademik.
“Ibarat menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri,” tulis salah satu akun, menyindir situasi yang kini berkembang.
Akun Herley, mengaku syok membaca kabar tersebut.
“Jujur, kaget banget dengar berita ini. Sebagai mahasiswa yang pernah dibimbing langsung saat PPG Prajabatan, kami mengenal beliau sebagai sosok pendidik yang disiplin, kritis, namun sangat sabar. Selalu on time, mengapresiasi tugas, dan memberi motivasi. Tidak pernah menunjukkan perilaku kasar,” tulisnya.
Ia menilai narasi yang beredar bertolak belakang dengan pengalaman pribadinya.
“Kami berharap publik lebih bijak dan tidak menyudutkan beliau sebelum tahu fakta sebenarnya. Beliau sudah meminta keluar baik-baik, bukan mengusir,” tambahnya.
Akun DPL menyinggung rekam jejak internal kampus.
“Orang UNIB pasti paham track record Prof W ini,” tulisnya singkat.
Hal senada disampaikan akun Santo.
“Semangat Pak Dekan, kita sama-sama tahu track record beliau,” ujarnya.
Sementara, Akun Line_J, memberi komentar berbeda saat tim media menghubunginya.
“Dosen kami itu, kak. Tapi dak galak ikut campur eh, maaf, mending cari track record di rektor soal bapak itu,” katanya.
Dan masih banyak akun-akun lain yang memberi dukungan kepada Abdul Rahman.
Hingga kini, proses hukum atas laporan dugaan penganiayaan masih berjalan. Belum ada kesimpulan resmi dari aparat.
Namun di ruang publik, suara alumni sudah lebih dulu lantang. Mereka menilai Abdul Rahman sebagai pemimpin yang transparan, tegas, dan konsisten menjaga integritas akademik di UNIB.
Publik kini menunggu fakta hukum berbicara. (tim)






