Razia atau Arogansi? Publik Menilai

Oleh: M. Frengky Wijaya

Mediabengkulu.id – Di tengah derasnya arus konten media sosial, tindakan aparat kini tak hanya dinilai dari hasil, tetapi juga dari cara. Itulah yang terjadi pada sejumlah aksi Satpol PP Kota Bengkulu yang belakangan kerap viral.

Mulai dari razia hotel, tempat hiburan malam, hingga mendatangi anak muda yang nongkrong pada malam hari. Semua direkam, semua dipublikasikan.

Publik pun bertanya: ini murni penegakan aturan atau ada semangat mengejar viralitas?

Video terbaru terasa lebih menggelitik. Dalam rekaman yang beredar, Kepala Satpol PP masuk ke kamar kos anak muda dengan nada tinggi—dan tetap mengenakan sepatu. Sepatu licin itu melangkah hingga ke dalam kamar, ruang paling privat bagi seseorang.

Penegakan aturan memang penting. Aparat punya kewenangan. Tapi kewenangan tanpa sensitivitas bisa berubah menjadi kesan arogansi.

Di negeri ini, menginjak teras rumah orang saja lazimnya kita melepas sandal atau sepatu. Itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan etika dasar.

Lalu bagaimana ketika seorang pejabat masuk ke kamar kos orang lain dengan sepatu masih terpasang?

Mungkin ia merasa benar. Mungkin ia merasa sedang menjalankan tugas. Namun rasa benar tidak otomatis membenarkan semua cara.

Ruang privat adalah batas. Di sanalah martabat seseorang diuji—baik yang diperiksa maupun yang memeriksa. Ketegasan tidak harus kehilangan kesantunan. Penegakan aturan tidak perlu menanggalkan adab.

Viralitas memang menggiurkan. Sorotan kamera bisa membangun citra tegas dan tanpa kompromi. Namun publik hari ini semakin cerdas. Mereka tak hanya melihat siapa yang salah, tapi juga bagaimana cara menindak.

Sudah saatnya ada evaluasi menyeluruh. Bukan untuk melemahkan penegakan aturan, melainkan untuk memastikan kewibawaan tetap berjalan seiring etika.

Karena pada akhirnya, wibawa pemerintahan bukan lahir dari sepatu yang melangkah paling jauh ke dalam kamar warga, melainkan dari sikap yang tahu batas.