Huntara Siap Huni, Pemerintah Percepat Transisi Penyintas Bencana

Deretan huntara siap huni yang dibangun BNPB untuk penyintas bencana di Aceh
Hunian sementara (huntara) siap huni yang dibangun BNPB di Desa Manyang Cut, Pidie Jaya, Aceh, untuk penyintas bencana. (foto: ist)

Jakarta, mediabengkulu – Pemerintah mempercepat transisi penyintas bencana melalui penyediaan hunian sementara (huntara) siap huni.

Langkah ini menegaskan kehadiran negara dalam memastikan pemulihan pascabencana berjalan cepat, terkoordinasi, dan berpihak pada masyarakat terdampak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga akhir Januari 2026 sebanyak 1.056 unit huntara telah rampung dan siap dihuni di wilayah Sumatera.

Pembangunan ini menjadi bagian dari penanganan rumah rusak berat yang terus dipacu melalui sinergi lintas kementerian dan pemerintah daerah.

“Hingga saat ini, 7.414 unit masih dalam proses pembangunan, sementara 1.056 unit telah selesai dan siap dihuni. Ini bentuk keseriusan pemerintah memastikan masa transisi berjalan cepat dan layak,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.

Selain huntara, pemerintah menyiapkan hunian tetap (huntap) sebagai solusi jangka panjang. Ribuan unit huntap telah diajukan dan ratusan unit sudah memasuki tahap konstruksi.

Pemerintah juga menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) untuk melindungi masyarakat selama menunggu rumah permanen dibangun.

Di Aceh, percepatan pembangunan huntara menjadi prioritas agar pengungsi segera keluar dari tenda sebelum Ramadan.

Di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, BNPB telah merampungkan 10 unit barak huntara yang dapat menampung 50 kepala keluarga.

“Sebanyak 10 kopel huntara telah selesai dan akan segera kami serahkan kepada pemerintah daerah agar masyarakat bisa segera menempatinya,” kata Tenaga Ahli BNPB Kolonel (Purn) Agus Marsanto.

Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi menegaskan penyediaan huntara merupakan bagian dari strategi pemulihan yang berkeadilan.

Huntara memberi rasa aman dan membantu warga kembali menjalani kehidupan normal.

“Ini bukan sekadar membangun tempat tinggal sementara, tetapi memastikan masyarakat hidup layak, sehat, dan bermartabat setelah bencana,” ujar Sibral.

Seiring pembangunan hunian, pemerintah memastikan dukungan logistik dan mitigasi risiko berjalan optimal.

Distribusi bantuan skala besar serta Operasi Modifikasi Cuaca terus dilakukan untuk melindungi masyarakat dan mempercepat pemulihan.

Dengan pendekatan terpadu, huntara siap huni menjadi simbol keberpihakan pemerintah dan harapan baru bagi penyintas bencana untuk bangkit dan menata masa depan dengan lebih baik. (**)