Seluma, mediabengkulu.co – Terkait pembangunan jembatan Desa Sekalak, Kecamatan Utara, Kabupaten Seluma, yang tak kunjung dibangun oleh pihak pemerintah.
Menanggapi hal ini, Ketua DPRD Kabupaten Seluma, Nofi Eriyan Andesca meminta kepada masyarakat Desa Sekalak agar dapat bersabar, pihaknya akan segera koordinasi dengan pihak Dinas PUPR Kabupaten Seluma.
“Masyarakat diharap bersabar dulu, sudah ada tim yang turun mengecek apakah akan dibangun tahun ini atau belum,” kata Nofi, Selasa (25/6/2024).
Nofi berharap kepada pihak pemerintah Kabupaten Seluma agar bisa membangun jembatan di Desa Sekalak tersebut.
Supaya masyarakat bisa memiliki akses langsung ke Seluma Utara dan Kota Tais. Menurut informasi, jembatan tersebut sudah dilakukan pengukuran.
“Semoga saja bisah cepat terealisasikan, hal tersebut juga akan kita bahas, saya berharap jembatan bisah segera dibangun,” ungkap Nofi.
Sementara masyarakat Desa Sekalak sangat berharap agar jembatan yang putus akibat banjir bandang pada tahun 2020 lalu bisa segera diperbaiki.
Selain minta perbaiki jembatan, masyarakat juga berharap agar akses jalan menuju Sekalak bisa di bangun.
Karena masalah jalan ini sangat lah berpengaruh pada perekonomian masyarakat setempat sebagai akses mengangkut hasil pertanian.
“Kami berharap segera diperbaiki, kalau saat ini jangankan untuk mengangkut hasil pertanian, keluar dari desa saja susah, kalau musim hujan tiba kami terisolir,” kata Sudarmono, Kepala Desa Sekalak.
Akses jalan tersebut merupakan akses jalan satu-satunya yang dekat untuk mempersingkat waktu menuju desa tetangga.
Saat warga ingin berurusan ke kantor Camat Seluma Utara ataupun ke area perkantoran Pematang Aur dan Kota Tais.
“Besar harapan kami agar jembatan yang telah putus kembali dibangun, karena sangat penting bagi kami masyarakat pedalaman terutama yang tidak memiliki kendaraan,” ungkap dia.
Meski ada jalan alternatif, masyarakat harus memutar jauh dengan menempuh jarak hingga 40 Km untuk sampai ke Kota Tais.
Sebab harus melintasi jembatan gantung terlebih dahulu, kemudian melalui jalan PT. Batubara Indah Lestari.
Selanjutnya rute yang dilintasi harus melewati kawasan Konservasi Taman Buru Semidang Bukit Kabu.
“Setelah berjalan beberapa jam baru akhirnya sampai kejalan raya, karena jarak yang jauh ini lah masyarakat lebih memilih untuk menyeberangi sungai,” ucap dia.
Laporan : Alsoni Mukhtiar // Editor : Sony






