Jakarta, mediabengkulu.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi strategi nasional untuk memperkuat sumber daya manusia dan ketahanan bangsa di tengah ketidakpastian global.
Ketua Umum Lingkar Nusantara (Lisan), Hendarsam Marantoko, menilai eskalasi konflik dunia dan rapuhnya rantai pasok pangan global menjadi ancaman serius bagi Indonesia.
“Di tengah perang Ukraina, konflik Timur Tengah, dan gangguan logistik global, ancaman tidak selalu berbentuk senjata. Krisis pangan bisa menjadi perang paling senyap namun mematikan,” ujar Hendarsam.
Ia menegaskan MBG harus dipahami sebagai bagian dari pertahanan semesta non-militer.
Menurutnya, kekuatan bangsa bertumpu pada kualitas manusia, bukan semata alat utama sistem persenjataan.
Hendarsam mengaitkan MBG dengan pemikiran Presiden Prabowo Subianto dalam buku Paradoks Indonesia.
Prabowo menekankan sebuah bangsa bisa runtuh bukan karena kekurangan senjata, melainkan karena rakyatnya lemah secara fisik, mental, dan ekonomi.
“Cara pandang ini jelas. Kekuatan negara ditentukan oleh kualitas manusia dan daya tahan sistem nasional,” katanya.
Ia menyebut MBG sebagai investasi jangka panjang sumber daya manusia.
Tanpa fondasi gizi yang kuat, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban strategis.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN sekaligus Direktur Promosi dan Edukasi Gizi, Dr. Gunalan, menegaskan MBG tidak hanya menyasar gizi dan pendidikan.
Program ini juga terhubung langsung dengan sektor produksi dan rantai pengadaan pangan nasional.
“BGN mendorong kreativitas daerah, termasuk penyusunan menu sehat tanpa MSG, seperti yang diterapkan KPPG Bandung awal Januari lalu,” kata Gunalan.
Ia menambahkan, pengadaan bahan pangan MBG melibatkan koperasi Merah Putih, BUMDes, serta UMKM lokal.
Skema ini memberi dampak ekonomi langsung sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Hakikat MBG adalah dari rakyat, dikelola negara, lalu dikembalikan untuk rakyat, khususnya penerima manfaat MBG,” tutup Gunalan. (**)
Program MBG Perkuat SDM dan Ketahanan Bangsa di Tengah Ketidakpastian Global






