Jakarta, Media Bengkulu – Pemerintah mulai mengeksekusi proyek hilirisasi nasional. Total investasi yang disiapkan mencapai Rp618,13 triliun.
Langkah ini menjadi strategi utama untuk memperkuat fondasi ekonomi dan mendorong pertumbuhan daerah.
Enam proyek hilirisasi dijadwalkan groundbreaking pada akhir Januari 2026.
Proyek tersebut diproyeksikan membuka lapangan kerja baru dan menggerakkan ekonomi lokal.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Prof. Ahmad Erani Yustika, menyebut 18 proyek hilirisasi strategis nasional kini siap masuk tahap pelaksanaan.
Seluruh proyek menunggu kesiapan pendanaan dan eksekusi oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia.
“Proyek-proyek ini sudah berada di ambang eksekusi,” ujar Erani.
Sebagian besar proyek berlokasi di Kalimantan Barat, terutama pengembangan bauksit dan aluminium.
Tiga dari enam proyek awal dipastikan mulai berjalan akhir Januari dengan nilai investasi hampir Rp47,31 triliun.
Erani menjelaskan, Kementerian ESDM telah merampungkan identifikasi potensi dan kajian awal proyek.
Seluruh dokumen pra-feasibility study (pra-FS) telah diserahkan kepada Danantara pada 22 Juli 2025.
“Setelah pra-FS, proyek akan segera dieksekusi dan diharapkan mendatangkan investasi besar,” katanya.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa peresmian enam proyek hilirisasi akan dilakukan akhir Januari 2026.
“Di akhir bulan ini rencananya ada sekitar enam proyek hilirisasi yang akan dilakukan groundbreaking,” ujar Prasetyo.
Ia menambahkan, proyek hilirisasi lainnya akan menyusul di berbagai daerah.
“Kalimantan Barat salah satunya. Masih ada sekitar 12 proyek lagi yang ditargetkan mulai Februari, paling lambat Maret,” tambahnya.
Pemerintah optimistis eksekusi proyek hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, menarik investasi besar, serta memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah secara berkelanjutan. (**)
Proyek Hilirisasi Masuk Tahap Eksekusi, Investasi Rp618 Triliun Siap Dongkrak Ekonomi Daerah






