Bengkulu Tengah, mediabengkulu – Aktivitas belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 5 Bengkulu Tengah kembali terganggu.
Asap menyengat yang diduga berasal dari aktivitas PT Palma Mas Sejati (PMS) terus masuk ke lingkungan sekolah dan mengusik kenyamanan siswa serta guru.
Gangguan ini bukan kejadian baru. Pihak sekolah menyebut persoalan asap sudah berlangsung lama, namun hingga kini belum ada perubahan berarti.
“Kalau dibilang ada perubahan, kami tidak merasakannya. Kondisinya masih sama. Asap itu tetap masuk ke sekolah,” kata Kepala MIN 5 Bengkulu Tengah, Anita Utami Nengsi, Rabu (28/1/2026).
Anita menyebut, dampak asap semakin parah saat cuaca mendung atau lembap. Bau menyengat kerap memenuhi ruang kelas dan mengganggu konsentrasi belajar siswa.
“Kalau cuaca mendung, asapnya terasa sekali. Baunya menyengat. Hari ini juga asapnya banyak,” ujarnya.
Sekolah Lebih Cepat Terpapar Asap
Menurut Anita, posisi sekolah yang berada lebih tinggi dari permukiman warga membuat MIN 5 Bengkulu Tengah lebih cepat terdampak asap pabrik.
“Letak sekolah kami lebih tinggi dari rumah warga. Jadi kemungkinan asapnya lebih cepat sampai ke sekolah,” jelasnya.
Keluhan pun datang dari berbagai pihak. Siswa mengeluhkan bau tak sedap, sementara guru kesulitan menjalankan proses belajar secara optimal.
“Anak-anak banyak mengeluh soal bau. Guru juga tidak nyaman. Kondisi ini jelas mengganggu kegiatan belajar mengajar,” kata Anita.
Meski belum ada laporan siswa sakit serius, pihak sekolah menilai situasi tersebut tidak bisa dianggap sepele.
“Memulangkan siswa memang belum, tapi gangguan ini nyata dan terus berulang,” tambahnya.
DLH Dinilai Tak Beri Solusi Jelas
Anita mengaku pihak sekolah sudah berupaya menyampaikan keluhan ke instansi terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Namun, hasilnya dinilai mengecewakan.
“Kami sudah coba ke DLH, tapi kesannya saling lempar kewenangan. Ke provinsi diarahkan ke daerah, ke daerah kembali lagi,” ungkapnya.
Ia menilai tidak adanya kejelasan penanganan membuat sekolah dan siswa terus menjadi korban.
“Sekolah tidak punya kewenangan untuk menyelesaikan ini. Kami hanya merasakan dampaknya,” tegas Anita.
Berdasarkan informasi yang diterima pihak sekolah, asap diduga berasal dari cerobong pabrik yang dinilai terlalu rendah.
“Kalau memang cerobongnya kurang tinggi, ya ditinggikan. Yang penting ada solusi nyata, bukan janji,” katanya.
Sekolah Ada Lebih Dulu dari Pabrik
Anita menegaskan, MIN 5 Bengkulu Tengah sudah berdiri jauh sebelum aktivitas pabrik beroperasi di wilayah tersebut.
“Sekolah ini lebih dulu ada. Harusnya ada tanggung jawab. Jangan sampai anak-anak yang jadi korban,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah dan pihak perusahaan segera turun tangan secara serius.
Menurutnya, hak anak untuk belajar dengan aman dan nyaman tidak boleh dikorbankan.
“Kami hanya ingin anak-anak belajar dengan tenang. Jangan sampai mereka terus-menerus menghirup asap,” pungkas Anita. (hln)






