Upaya Perlindungan Anak, Dinsos Gagas Gerakan Maghrib di Rumah

Kepala Dinas Sosial Kota Bengkulu Sahat Marulitua Situmorang. (foto : dok/mediabengkulu.co)

Kota Bengkulu, mediabengkulu.co – Peristiwa tragis pembunuhan dua anak di Kota Bengkulu baru-baru ini menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap anak-anak.

Menyikapi kejadian tersebut, Dinas Sosial Kota Bengkulu mencetuskan gerakan Maghrib di Rumah, sebagai langkah preventif untuk mencegah terulangnya kasus serupa.

Kepala Dinas Sosial Kota Bengkulu, Sahat Marulitua Situmorang, menyampaikan gerakan ini bertujuan mengajak seluruh orang tua untuk lebih peduli terhadap keberadaan anak-anak. Khususnya pada waktu-waktu rawan seperti menjelang malam.

“Banyak orang tua yang menganggap anak usia 10 hingga 15 tahun sudah cukup dewasa dan mampu menjaga diri. Padahal, di usia itu mereka masih sangat membutuhkan perhatian dan pengawasan,” ungkap Sahat, Selasa (22/4/2025).

Menurutnya, kurangnya pengawasan orang tua di saat-saat penting seperti waktu Maghrib bisa membuka peluang terjadinya berbagai permasalahan sosial.

“Saat Maghrib seharusnya anak-anak berada di rumah, berkumpul bersama keluarga, bukan berkeliaran tanpa pengawasan. Dari situlah kami ingin membangun kesadaran kolektif lewat gerakan ini,” tambahnya.

Sahat mengusulkan agar gerakan Maghrib di Rumah menjadi bagian dari budaya baru di masyarakat Kota Bengkulu. Ia menyarankan agar sejak pukul 15.30 WIB, anak-anak sudah bersiap di rumah, mandi, makan bersama keluarga, dan bagi yang muslim bersiap melaksanakan salat Maghrib bersama orang tua.

“Lewat kebersamaan itu, kita berharap tumbuh kembali kehangatan keluarga dan rasa aman bagi anak-anak kita,” jelas Sahat.

Dinas Sosial juga berencana mengajukan gagasan ini kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bengkulu, agar dapat diterbitkan surat edaran resmi sebagai bentuk dukungan kebijakan.

“Kami akan menyampaikan kepada Pak Wali Kota dan Wawali agar diterbitkan surat edaran kepada masyarakat. Ini sebagai bentuk arahan langsung agar setiap keluarga peduli terhadap anak-anaknya. Hari ini mungkin yang menjadi korban adalah anak orang lain, tapi jangan sampai besok giliran anak kita sendiri,” tegas Sahat. (mc)

Editor: Helen