Banda Aceh, mediabengkulu.co – Pemerintah mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir dan longsor di Aceh.
Di tengah upaya pemulihan, muncul aksi pengibaran simbol Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dinilai mengganggu stabilitas dan persatuan.
Direktur Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Noor Azhari, menyayangkan aksi tersebut.
Ia menegaskan penolakan terhadap kebangkitan simbol separatis di tengah duka warga.
“Saat rakyat berduka dan mengungsi, yang dibutuhkan adalah solidaritas dan bantuan, bukan simbol politik yang memicu kegaduhan,” kata Noor.
Ia menilai bencana seharusnya menjadi ruang kemanusiaan. Menurutnya, pengibaran simbol konflik lama berpotensi mengalihkan fokus aparat dan relawan yang sedang mengevakuasi warga serta menyalurkan bantuan.
“Ini tidak sensitif. Prioritas saat ini adalah keselamatan dan kemanusiaan, bukan urusan politik,” ujarnya.
Noor mendorong aparat bertindak persuasif namun tegas agar situasi tetap kondusif. Ia mengajak semua pihak mengedepankan empati dan gotong royong.
“Aceh butuh tangan yang membantu, bukan simbol yang memecah,” tegasnya.
Senada, Sekjen Forum LSM Aceh, Wiratmadinata, mengimbau masyarakat tidak terpancing provokasi politik di tengah bencana.
Ia meminta publik tetap fokus pada pemulihan.
“Jangan terjebak agenda politik yang tidak jelas. Yang diuntungkan hanya para provokator,” kata Wira.
Pemerintah dan masyarakat diharapkan bersatu mempercepat pemulihan Aceh dan menjaga kedamaian pascabencana. (**)
Aceh Bangkit Pascabencana, Tokoh Tolak Munculnya Simbol Separatis






