Bengkulu, meiabengkulu.co – Berdasarkan data World Health Organization (2023) diperkirakan sebanyak 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun di seluruh dunia mengalami hipertensi.
Dengan sebagian besar (dua pertiga) berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah, sementara 46% dari mereka tidak menyadari kondisi tersebut, kurang dari 42% telah didiagnosis dan menjalani pengobatan, dan hanya sekitar 21% yang berhasil mengendalikan hipertensinya.
Hipertensi yang biasa disebut Sillent Killer, menjadi penyakit terbanyak yang diderita masyarakat Kota Bengulu.
Kegiatan Pengabdian Masyarakat dalam bentuk Pemberdayaan Kader dalam Manajemen Informasi dan Pengendalian Hipertensi melalui Aplikasi Digital, di Aula Puskesmas Lempuing, Kota Bengkulu, Rabu (6/8/2025).
Kemudian kegiatan ini, dilanjutkan pada hari Selasa, tanggal 12 Agustus 2025, bertempat di Aula Puskesmas Nusa Indah, Kota Bengkulu.
Bapak Ns. Hermansyah, M.Kep sebagai Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, menegaskan bahwa Pengabdian kepada masyarakat merupakan implementasi konkret dari salah satu poin Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dosen memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pendidik dan peneliti, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang berkontribusi langsung dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pembinaan yang berkelanjutan.
Dengan edukasi yang tepat, kami berharap dapat membantu masyarakat memahami pentingnya manajemen pengendalian hipertensi, karna jika tidak dikendalikan akan beresiko terkena komplikasi lainnya, seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan diabetes mellitus.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat oleh tim dosen yang terdiri dari Ns. Mercy Nafratilova, M.Kep., Sp.Kep.An., Ns. Dwi Wulandari, S.Kep.,MAN., dan Efrizon Hariadi, SKM.,MPH.
Serta mahasiswa Poltekkes Kemenkes Bengkulu, dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas kader kesehatan dalam pemanfaatan teknologi digital guna memantau dan mengendalikan hipertensi di wilayah kerja masing-masing.
Adapun peserta dalam kegiatan ini adalah para kader kesehatan dari Kelurahan Lempuing dan Kelurahan Nusa Indah, yang berperan aktif dalam kegiatan diskusi, pelatihan, serta simulasi penggunaan aplikasi digital untuk pencatatan dan pelaporan data hipertensi.
Sebelum memulai kegiatan sosialisasi tentang hipertensi, Tim Pengabdian Masyarakat dari Poltekkes Bengkulu terlebih dahulu melakukan pengukuran tekanan darah kepada seluruh peserta yang hadir di aula Puskesmas.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif dalam mengenali faktor risiko penyakit hipertensi secara lebih dini.
Setelah pemeriksaan, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai hipertensi mulai dari pengertian, penyebab, gejala, komplikasi, pencegahan dan penanganan hipertensi, termasuk pengenalan aplikasi digital untuk memantau tekanan darah, mengingatkan jadwal minum obat, serta memberi informasi seputar gaya hidup sehat.
Setelah melakukan sosialisasi mengenai hipertensi dan pemanfaatan aplikasi digital dalam penatalaksanaannya, Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Bengkulu melanjutkan kegiatan dengan melakukan pendampingan langsung kepada para kader kesehatan yang hadir.
Tim Dosen Pengabdian Masyarakat Ns. Dwi Wulandari, S.Kep., MAN menjelaskan pendampingan ini bertujuan untuk memastikan para kader memahami dengan benar dan tepat cara penggunaan aplikasi digital yang diperkenalkan dalam sesi sosialisasi sebelumnya.
Aplikasi tersebut dirancang untuk membantu memantau tekanan darah, mengingatkan jadwal minum obat, mencatat hasil pengukuran, serta memberikan edukasi tentang gaya hidup sehat.
“Kader adalah ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi kami untuk memberikan bimbingan langsung agar mereka tidak hanya paham teori, tetapi juga bisa mempraktikkan penggunaan aplikasi ini dalam kehidupan sehari-hari maupun saat mendampingi warga,” ungkapnya.
Dalam sesi pendampingan, setiap kader mendapat kesempatan untuk mencoba langsung fitur-fitur aplikasi menggunakan perangkat masing-masing, dibimbing secara step-by-step oleh anggota tim Pengabmas.
Kader juga diberikan modul panduan singkat sebagai referensi penggunaan aplikasi secara mandiri di kemudian hari.
Ibu Evi, salah satu kader kesehatan dari Kelurahan Lempuing, mengaku senang mendapatkan pelatihan langsung.
“Tadinya saya takut bingung pakai aplikasinya, tapi ternyata mudah dipahami. Ini bisa sangat membantu saya dalam memantau warga binaan yang punya riwayat hipertensi,” ujarnya.
Kegiatan ini menunjukkan komitmen Tim Pengabmas untuk tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui teknologi, agar pengelolaan hipertensi dapat dilakukan lebih efektif dan berkelanjutan di tingkat komunitas.
Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader, dan teknologi, diharapkan penanggulangan hipertensi di masyarakat dapat berjalan lebih optimal dan berdampak nyata dalam menurunkan angka kejadian penyakit tidak menular di wilayah tersebut.
Salah satu anggota tim pengabdian masyarakat, Ibu Ns. Mercy Nafratilova, M.Kep., Sp.Kep.An., menekankan pentingnya penerapan pendekatan berbasis komunitas dalam kegiatan semacam ini.
Menurutnya, keterlibatan aktif masyarakat secara langsung dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman mereka terhadap isu-isu kesehatan.
“Kami berharap program ini dapat dijadikan sebagai acuan atau model untuk kegiatan pengabdian masyarakat di masa mendatang,” ungkapnya.
Satu minggu pasca kegiatan sosialisasi mengenai hipertensi dan aplikasi digital di Puskesmas, Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Bengkulu kembali melanjutkan programnya dengan menggelar kegiatan praktik langsung bersama para kader dan pasien penderita hipertensi, Selasa, 19 Agustus 2025, bertempat di Rumah Kader dan Puskesmas Nusa Indah.
Dalam kegiatan ini, para kader membawa pasien hipertensi binaan mereka masing-masing untuk melakukan simulasi penggunaan aplikasi digital yang telah diperkenalkan sebelumnya, sekaligus menerapkan penatalaksanaan hipertensi secara nyata di lapangan.
Dalam sesi ini, setiap pasien diperiksa tekanan darahnya dan diajarkan cara memasukkan data ke dalam aplikasi, mulai dari hasil pengukuran, riwayat minum obat, hingga mencatat keluhan yang dirasakan.
Para kader bertindak sebagai pendamping pasien, dibimbing langsung oleh tim dosen dan mahasiswa dari Poltekkes Bengkulu.
Ibu Ita, salah satu kader dari Kelurahan Nusa Indah, menyambut baik kegiatan ini.
“Pasien kami jadi merasa lebih diperhatikan, dan saya pribadi jadi lebih percaya diri menggunakan aplikasi untuk bantu mereka,” katanya.
Menurut tim Pengabmas, pendekatan praktik ini sangat penting untuk menguatkan peran kader sebagai penghubung antara layanan kesehatan dan masyarakat, terutama dalam pengelolaan penyakit tidak menular seperti hipertensi yang membutuhkan pemantauan jangka panjang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi kesehatan yang digagas oleh Poltekkes Bengkulu, dengan harapan dapat menekan angka komplikasi hipertensi melalui edukasi, pendampingan, dan penggunaan alat bantu digital yang sederhana namun efektif.
Partisipasi Pemerintah dan Dukungan
Program ini juga mendapatkan sambutan positif dari pihak Puskesmas Kota Bengkulu. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini memiliki nilai strategis dalam meningkatkan wawasan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan.
“Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu telah menjadi mitra yang sangat berperan, tidak hanya dalam mendukung praktik pembelajaran mahasiswa, tetapi juga melalui berbagai kegiatan pengabdian yang berdampak langsung. Edukasi yang diberikan oleh para dosen sangat membantu kami dalam mengurangi risiko komplikasi akibat hipertensi yang tidak tertangani dengan baik,” ujarnya.

Harapan dan Dampak Kegiatan
Kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema “Manajemen Informasi dan Pengendalian Hipertensi Melalui Aplikasi Digital” diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran, serta peningkatan kapasitas kader kesehatan di tingkat komunitas.
Melalui pelatihan dan pendampingan yang diberikan, para kader diharapkan mampu memahami pentingnya pengelolaan data kesehatan yang akurat dan sistematis, serta dapat menggunakan teknologi digital sebagai alat bantu dalam memantau kondisi kesehatan masyarakat, khususnya terkait hipertensi.
Pemanfaatan aplikasi digital diharapkan tidak hanya mempermudah pencatatan dan pelaporan data, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang interaktif dan berkelanjutan bagi kader dan masyarakat.
Dengan sistem informasi yang lebih terintegrasi, proses deteksi dini, tindak lanjut, hingga evaluasi kondisi hipertensi dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien.
Dampak jangka panjang yang ingin dicapai melalui kegiatan ini adalah terbentuknya komunitas yang sadar akan pentingnya pengendalian tekanan darah, serta meningkatnya keterampilan kader dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung pelayanan kesehatan di lingkup wilayah kerja mereka.
Kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara institusi pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat, sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Melalui kegiatan ini, besar harapan agar pendekatan digital dalam pengelolaan penyakit kronis seperti hipertensi, dapat terus dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain, sehingga tercipta sistem pelayanan kesehatan yang lebih responsif, modern, dan berbasis komunitas. (**)






