Jakarta, mediabengkulu.co – Pemerintah menegaskan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah tekanan global.
Nilai tukar rupiah dinilai masih terkendali dan mencerminkan fundamental ekonomi yang kuat.
Di tengah ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan kebijakan moneter ketat negara maju, pemerintah bersama Bank Indonesia terus menjaga volatilitas rupiah.
Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter diperkuat melalui intervensi pasar valas, penguatan cadangan devisa, serta pengelolaan arus modal yang adaptif.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyebut pertumbuhan ekonomi nasional stabil di kisaran 4,8–5 persen secara tahunan, dengan inflasi yang terkendali.
Cadangan devisa juga dinilai kuat, ditopang surplus neraca perdagangan.
“Fundamental kita kuat. Yang perlu diperkuat adalah sentimen pasar,” kata Misbakhun, Sabtu (24/1/2026).
Ia menambahkan, pemerintah terus mendorong diversifikasi pasar ekspor dan penguatan industri dalam negeri, guna mengurangi ketergantungan pada faktor eksternal.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen pemerintah menjaga disiplin anggaran.
Belanja negara difokuskan pada program produktif yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan penciptaan lapangan kerja.
“Dengan pengelolaan fiskal yang prudent dan kredibel, stabilitas makroekonomi bisa dijaga tanpa mengorbankan pertumbuhan,” ujarnya.
Pemerintah menilai stabilitas rupiah penting untuk memberi kepastian bagi dunia usaha dan melindungi masyarakat dari gejolak harga impor.
Ke depan, sinergi kebijakan lintas sektor akan terus diperkuat agar perekonomian nasional tetap aman, resilien, dan berkelanjutan. (**)
Rupiah Tetap Stabil, Pemerintah Tegaskan Ekonomi Nasional Aman






