Efisiensi Anggaran Jadi Sorotan, Mantan Presma Unihaz Kritik OPD Benteng

tokoh pemuda Bengkulu Tengah memberikan keterangan terkait efisiensi anggaran OPD
Redhowan Ahlim Abadi saat menyampaikan kritik terhadap kinerja OPD Bengkulu Tengah dalam masa efisiensi anggaran. (foto: ist)

Bengkulu Tengah, mediabengkulu.id – Efisiensi anggaran di daerah kembali menuai sorotan. Mantan Presiden Mahasiswa Universitas Hazairin (Unihaz) Bengkulu sekaligus tokoh pemuda Bengkulu Tengah, Redhowan Ahlim Abadi, mempertanyakan kinerja sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Ia menilai, sudah empat bulan berjalan, banyak OPD justru terlalu bergantung pada alasan efisiensi anggaran.

“Jangan nyaman dengan kondisi sekarang. Jangan jadikan efisiensi sebagai alasan,” tegas Redhowan, Selasa (21/4/2026).

Menurutnya, kepala dinas seharusnya aktif mencari peluang anggaran dari pemerintah pusat. Bukan hanya menunggu kondisi anggaran daerah.

Ia menilai, pejabat daerah harus menunjukkan kapasitas dan jaringan kerja.

“Saya yakin kepala dinas punya akses ke pusat. Harusnya itu dimanfaatkan untuk daerah,” ujarnya.

Redhowan juga menyinggung pernyataan Kementerian Keuangan yang menyebut efisiensi bukan berarti penghentian anggaran, melainkan penyesuaian dan pengajuan program.

Hal itu, kata dia, harusnya menjadi motivasi bagi OPD untuk lebih aktif.

“Kementerian Keuangan sudah jelas. Tinggal bagaimana daerah bergerak,” katanya.

Ia menegaskan, masyarakat tidak boleh terus menerima alasan efisiensi tanpa solusi konkret.

Sementara itu, sejumlah OPD di Bengkulu Tengah disebut masih mengalami keterbatasan kegiatan. Termasuk sektor kepemudaan dan olahraga.

Informasi di lapangan menyebut, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Bengkulu Tengah belum dapat menjalankan banyak program akibat keterbatasan anggaran.

Sejumlah kegiatan kolaborasi dengan organisasi pemuda juga tertunda. Alasannya masih menunggu ketersediaan anggaran.

Redhowan, meminta kondisi ini tidak dibiarkan berlarut.

“Kalau hanya menunggu, pembangunan akan stagnan,” ujarnya.

Ia mendorong adanya inovasi dan kolaborasi lintas sektor agar program tetap berjalan meski dalam keterbatasan anggaran. (hln)