Eks Napiter Banten Ikuti Pelatihan Teknisi AC, Dukung Reintegrasi Sosial

Eks narapidana terorisme mengikuti pelatihan teknisi AC di BPSDMD Banten sebagai bagian dari program reintegrasi sosial
Sebanyak 20 eks narapidana kasus terorisme mengikuti pelatihan teknisi Air Conditioner di BPSDMD Banten, Pandeglang, sebagai bagian dari program reintegrasi sosial yang digagas Densus 88 dan Astra International. (foto: ist)

Pandeglang, mediabengkulu.id – Sebanyak 20 eks narapidana kasus terorisme di Banten mulai menata hidup baru. Mereka kini duduk di ruang pelatihan, bukan lagi di ruang pemeriksaan.

Program pelatihan teknisi Air Conditioner (AC) digelar di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Banten, Kecamatan Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang.

Langkah ini menjadi bagian dari proses panjang reintegrasi sosial. Para peserta sebelumnya telah menyatakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengakui Pancasila sebagai dasar negara.

Sebagian besar peserta merupakan eks anggota Jamaah Islamiyah. Kini mereka memilih meninggalkan masa lalu dan mencoba jalan baru.

Program ini digagas oleh Densus 88 Antiteror Polri dan didukung oleh PT Astra International sebagai bagian dari upaya pencegahan paham radikal.

Perwakilan Astra, Jaka Fernando, menyebut pelatihan ini sudah berjalan beberapa kali.

“Ini sudah angkatan keenam. Kami konsisten bekerja sama dengan Densus 88 untuk memberi keterampilan bagi eks napiter,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, keterampilan teknisi AC dipilih karena peluang kerjanya luas dan dibutuhkan di banyak sektor.

Dalam pelatihan ini, hampir seluruh peserta langsung mendapat perlengkapan kerja. Tujuannya agar mereka bisa mandiri setelah program selesai.

Menariknya, beberapa alumni yang sudah berhasil kini ikut terlibat sebagai pendamping pelatihan. Mereka menjadi bukti bahwa perubahan itu mungkin terjadi.

Salah satunya Kusnadi dari Serang dan Kartono dari Bogor, yang kini membantu sebagai asisten pelatih.

Selain keterampilan, peserta juga mendapat pendampingan sosial. Sejumlah organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ikut terlibat di Banten.

Pendekatan yang digunakan kini berbeda. Densus 88 Antiteror Polri mengedepankan pendekatan humanis atau soft approach.

Pendekatan ini menekankan dialog, pembinaan, dan pemberdayaan ekonomi.

Hasilnya mulai terlihat. Dalam beberapa tahun terakhir, angka serangan teror tercatat menurun, bahkan mencapai kondisi zero attack dalam periode tertentu.

Program ini menunjukkan satu hal penting: perubahan tidak hanya lewat penegakan hukum, tapi juga lewat kesempatan kedua. (**)